BAB 1
Udara pagi ini, seolah-olah membangunkanku dalam tidur nyenyak ku yang ku mulai dari semalam. Awalnya aku merasakan rasa yang teramat malas, karena rasa udara yang teramat sejuk. Biarpun seolah-olah seperti membangunkanku tanpa disadari rasa sejuk yang ditimbulkan pagi ini membuat aku semakin merapatkan tubuh kecilku diatas tempat tidur kabanggaanku. Ingin rasanya aku semakin merapatkan tubuhku diatas tempat tidur. Tapi, aku mempunyai satu kewajiban yang aku harus jalani setiap pagi yaitu sekolah, saat ini aku duduk dikelas tiga SMA yup! Aku sudah mau lulus sekolah.
Aku Sabilla Hanifah, biasa teman-temanku memanggilku Billa. Aku adalah anak satu-satunya dikeluargaku. Makanya tidak jarang aku sangat dimanja oleh kedua orangtuaku. Namun, aku merasa terkadang perilaku yang dikeluarkan oleh keluarga ku sangatlah berlebihan. Sebenarnya aku adalah orang yang tidak suka dimanja, namun karena pada dasarnya mereka selalu memanjakan aku jika aku ingin apapun. Ya... aku hanya bisa mengikuti perlakuan kedua orangtua itu nggak ada ruginya kan? paling tidak aku tidak memaksakan mereka. Aku berasal dari keluarga yang berkecukupan, ayahku bekerja di sebuah perusahaan swasta, dan mama ku mempunyai sebuah butik pakaian muslimah.
Pagi ini seperti biasa aku pergi kesekolah dengan bus umum yang aku naiki dari halte yang tidak jauh dari daerah rumahku, ayah selalu mengantarkan aku diperempatan jalan karena arah kantor ayah dan sekolahku berbeda, buatku tidak masalah aku harus naik bus umum asalkan saja aku bisa mengatur waktu supaya tidak telat sampai kesekolah. Maklum bus umum kan selalu mengantarkan para penumpangnya jika bus itu sudah penuh. Oya, aku biasa naik bus umum yang pengemudi dan kondekturnya sudah aku kenal loh ! Dan aku juga mempunyai tempat favorit kalau aku menaiki bus itu, didekat pintu samping jendela. Lucunya seakan-akan kondektur itu hapal kebiasaan aku jadi, kalau aku menaiki bus itu selalu tidak ada penumpang sebelumnya yang menempati tempatku itu alias kosong.
Bus itu telah mengantarkan aku tepat sampai di depan sekolahku, dengan cepat aku langsung memasuki kelasku yang berada dipojok dekat kantin, tempat yang strategis dan juga menyesatkan menurutku hehe... disekolah aku mempunyai empat orang sahabat yang sudah aku kenal dari SMP lucunya kami berlima selalu satu kelas, hal yang aneh buat aku karena bisa sajakan kami memencar tapi ini tidak, mungkin jodoh kali ya. Aku perkenalkan nama teman-temanku mereka adalah Dini, Rini, Septian, dan Anjani. Jika kalian amati terselip nama Septian pastilah dia adalah seorang laki-laki etss ! jangan salah, dia memang laki-laki namun hati dan jiwanya lebih condong ke perempuan loh. Biarpun dia begitu, tapi diantara kami dia lah yang paling pintar dalam semua pelajaran.
Sudah dulu ya perkenalannya aku ada ujian dadakan yang dilakukan Pak Sholeh guru fisikaku.
“Kalian sudah kelas tiga dan harus dilatih dengan ulangan-ulangan agar kalian terbiasa saat ujian nanti” begitulah kata-kata Pak Sholeh yang selalu dikeluarkan olehnya setelah mengumumkan ujian mendadak.
Ujian sudah aku lalui, buat ku ini tidaklah berat karena aku dan sahabat-sahabat ku selalu rajin belajar kelompok bersama. Huh ! hari ini seperti biasa disekolah dipenuhi dengan pendalaman materi dalam rangka mempersiapi ujian nasional yang akan dilaksanakan 5 bulan lagi. Pusing sih, tapi jika kita ikhlas bukankah itu akan jadi hal yang menyenangkan toh itu semua kan buat bekal ku saat ujian nanti. Aku langsung meninggalkan sekolah karena, yang aku inginkan hanya satu melemparkan tubuh ku keatas tempat tidurku. Langsung aku menunggu bus yang akan mengantarkan aku sampai daerah rumahku. Bus yang aku tunggu pun menampakan wujudnya dan tanpa menunggu aba-aba saat bus itu berhenti aku pun langsung menaikinya. Memang bukan bus yang biasa aku naiki tapi, seolah suasana mengerti tempat kesukaanku belum ada yang menempati. Setelah aku duduk langsung aku keluarkan novel yang baru aku beli minggu lalu dan belum selesai aku membacanya, saat sedang asik membacanya tiba-tiba ada yang mencolek pundaku. Tentu aku sudah hapal itu adalah kondektur yang meminta uang kepada setiap penumpang. Langsung aku serahkan uang kertas lima ribu rupiah, dengan cepat kondektur itu, menyerahkan uang kembalian tiga ribu rupiah kepada ku, dengan mata yang tetap tertuju pada novel yang aku baca, aku pun mengambil uang yang dia beri dengan cuek. Tanpa aku sadari kondektur yang tadinya berdiri disamping tempat dudukku sudah duduk dibangku tepat disebelahku.
“Billa ya ?”
“Iya!”
Kataku yang terkejut ketika namaku disebutnya.
“Gue Armada, temen SMP loe, masih inget ?”
“Armada ??”
“Iya, Armada temen sekelas loe waktu kelas tiga SMP”
Astaga ! Armada yang sempat aku taksir waktu aku duduk dikelas tiga SMP. Bisa kalian bayangkan bagaimana cepatnya jantungku berdetak begitu melihatnya. Bagaimana tidak, karena Armada lah aku sampai saat ini malas menjalin kedekatan dengan seorang laki-laki. Bukan karena aku pernah disakiti olehnya tapi, karena dulu aku begitu suka dengannya bagaimana tidak dia adalah laki-laki yang baik, sopan, pintar, dan soleh tidak ketinggalan wajahnya yang tampan. Jadi, aku berpikir jarang ada laki-laki sesempurna dia.
“I...iya inget ko”
“Loh, ko langsung kaya orang ketemu setan gitu sih? Gue nyeremin ya?”
“Nggak ko, gue kaget aja tiba-tiba loe ada disini”
“Tadinya gue juga nggak yakin itu loe tapi, pas gue liat gelang tangan lumba-lumba loe baru gue yakin itu loe”
Gelang tangan aku? Yaampun, berarti dulu dia merhatiin aku dong. Tapi kayaknya wajar deh, kalo dia ngenalin aku dari gelang tangan yang ada sedikit manik-manik bermotif lumba-lumba yang aku pake. Karena aku emang ga bisa lepas dari gelang tangan yang dikasih sama nenekku.
“Bisa aja loe, loh ko loe disini? Ga sekolah?”
“Gue nggak nerusin sekolah.”
Pas aku tanya begitu langsung terlihat jelas dari mukanya dia sedih. Yaampun, kayaknya aku salah ngomong.
“Kenapa?”
“Biasa biaya, jadi nggak bisa terusin sekolah. Sekarang gue tinggal sama om gue dan gue jadi kondektur deh kaya sekarang”
“Oops... sorry gue nggak tau”
“Nggak apa-apa lagi kekurangan ko ditutupin. Gimana mau maju iya nggak ?”
“Iya sih.”
“Loe turun diderah mana? nanti kelewatan lagi”
“Jalan kencana”
“Oke, sebentar lagi sampai siap-siap ya nanti gue berentiin”
“Iya”
Sempat nggak percaya waktu liat sosok itu lagi, mau teriak sih tapi nggak mungkin didalam bus aku teriak-teriak. Dia emang berasal dari keluarga nggak mampu, ayahnya Cuma seorang kuli bangunan dan ibunya ibu rumah tangga biasa, dia punya 2 orang adik aku inget betul namanya Bagas dan Retno. Kenapa aku tau? Dulu Bagas adiknya yang nomor dua pernah sakit demam berdarah jadi aku dan teman-teman sekelas menjenguknya ramai-ramai.
“Makasih ya.”
“Sama-sama, sampai besok ya”
Senyuman yang sama saat terakhir aku ketemu dia, aku kira dulu aku udah nggak akan ketemu dia lagi tapi namanya takdir.
Sepanjang hari dirumah aku tanggalkan rencanaku yang ingin istirahat, yang aku pikirkan bukan bagaimana nikmatnya istirahat tapi wajah Armada ya Armada. Wajah yang selalu tulus menolong orang yang lagi kesulitan, mata yang santun melihat wanita. Satu kebijakan yang dulu aku ambil dari dia “Perempuan harus bisa membedakan laki-laki. Sebaik-baiknya laki-laki, dia yang tau memperlakukan wanita dengan sopan dan santun.” Ga salah semua temen perempuanku pada naksir sama dia. Tapi, keadaan hidup itu seimbang ya kadang aku iri sama dia karena kemampuannya. Aku yang dari keluarga mampu ga bisa sepinter dia.
Bab 2.
Hari ini aku bisa nggak ya ketemu dia? Tanda tanya raksasa membayangi pikiranku. Dalam hati aku mau dekat kaya dulu tapi, mungkin karena kita udah dewasa jadi rasa canggung itu ada. Rasanya indah membayangkan kalau disaat aku stress memikirkan semua pelajaran yang dipersiapkan untuk ujian nasional, terhapus sementara kalau liat Armada tapi mana mungkin, hari ini hujan deras banget aku terpaksa menunggu hujan reda paling tidak memungkinkan aku bisa jalan kehalte depan sekolah tanpa harus basah-basahan. Gak mungkinkan ada kebetulan lagi, tiba-tiba saat nanti aku naik bus, bus yang dikondekturi oleh Armada. Jarum jam tanganku udah nunjukin jam tiga sore, hujan kayak bersahabat denganku mendengar doa-doaku yang meminta supaya berhenti. Saat sudah lumayan reda aku langsung lari kearah halte.
Astaga! Armada.
“Hei..”
“Kok loe disini?”
“Lupa ya? Kemarin sebelum loe turun kan gue bilang sampai besok ya.”
Astaga! Yang bener dia bilang begitu? Tapi kok aku nggak sadar ya?
“Loe dari tadi disini?”
“Iya. Takut loe udah pulang duluan jadinya gue buru-buru kesini, eh ternyata hujan. Gue udah pesimis loe belum pulang tapi kalau udah takdirnya pasti ketemu makanya gue milih nunggu disini.”
“Maaf ya... gue nggak tau loe disini, gue pikir yang kemarin itu bercanda nggak taunya beneran”
Yup! Modalku buat nutupin kalau sebenarnya aku nggak tau dia bilang mau ketemuan hari ini.
“Gak apa-apa lagi”
Ya ampun, ga tega aku liat dia. Pasti kedinginan banget aku yakin dia disini dari jam satu tadi karena, jam segitu aku keluar sekolah.
“Loe gak kerja hari ini?”
“Nggak, gue ijin sama om gue.”
“Gue benar-benar nggak enak deh sama loe.”
“Gue yang nggak enak sama loe baru kemarin ketemu udah ketemu lagi.”
“Nggak apa-apa lagi, gue seneng kok bisa ketemu temen lama.”
“Loe mau langsung pulang atau?”
“Emang kenapa?”
“Kalau loe nggak mau langsung pulang, kita makan yuk? Ya bukan ditempat mewah sih, tapi semua makanannya enak deh.”
“Bisa aja loe, emang ngaruh makan ditempat mewah atau nggak? Sama aja lagi. Yuk gue mau! ”
“Kita jalan kaki ya? Tempatnya nggak gitu jauh kok, habis hujan juga cuacanya sejuk kalau buat jalan kaki.”
“Iya.”
“Sebenarnya alibi doang sih, jalan kaki karena gue nggak punya kendaraan.hehe..”
Senyuman itu lagi yang dia keluarin, aku nggak tahu aku sekarang mimpi atau nggak karena hari ini seneng banget.
“Bisa aja loe. Tenang kok nggak bawa kendaraan loe tetep ganteng.”
“Ah, mujinya berlebihan ni.”
Cuaca dingin banget, kalau boleh aku titip pesen sama angin aku mau jangan datang dulu saat aku lagi jalan sama Armada. Aku mau liat mukanya tanpa ada rasa dingin yang mengganggu. Tapi tetap saja angin seolah meledekku.
“Dingin ya Bil?”
“Nggak kok.”
“Nggak gimana? Itu tangan loe gemeter.”
“Apa mau pulang aja?”
“Gue nggak apa-apa, kita tetep makan aja.”
“Tapi kalau loe kedinginan bilang ya, kita langsung pulang aja. Gue nggak bawa jaket jadi nggak ada yang bisa angetin loe.”
“Iya..”
Ahhh..... sampai juga.
“Mau makan apa Bil?”
“Mie ayam baksonya deh.”
Aku berharap dalam kondisi begini dia bukan teman yang pernah aku idam-idamkan tapi pacar yang sayang sama aku. Tapi, aku cuma mimpi mana mungkin dia tahu aku dari SMP suka sama dia.
“Ini pesenan loe, loe pas banget disini mie ayamnya itu enak banget. Terus gue pesenin teh anget, gue tahu loe kedinginan kan dari tangan loe udah keliatan. Dimakan Bil !”
Tanpa aku minta, dia tahu aku butuh teh anget.
“Gimana enak nggak ?”
“Ini enak banget. Kok loe bisa tahu sih disini ada mie ayam seenak ini? Gue aja, yang bolak balik tiap hari didaerah ini nggak tahu.”
“Ya loe makannya dilestoran mulu sih hehe..”
“Bisa aja loe, nggak lah. Emang gue anak konglomerat. Tapi kapan-kapan gantian gue yang teraktir loe ya.”
“Iya, udah dimakan dulu ntar mekar lagi mienya.”
Berharap momen kaya gini nggak akan berakhir, seneng, bingung, sama grogi jadi satu. Habis hujan begini makan mie ayam super enak sama orang yang gue sayang dari SMP. Ngeliat dia ketawa didepan gue yang nggak gue dapet waktu SMP dulu. Pernah sih ketawa bareng tapi, itu pun sama teman-teman gue bukan berdua kaya sekarang.
BAB 3.
Hubunganku dan Armada semakin dekat, tapi belum jadian loh! Kami hanya sekedar teman dekat. Pengen sih bisa jadian sama dia, nggak peduli status sosialnya apa, yang penting dia baik dan sopan.
Siang ini matahari terik banget sampai semua keringat dalam tubuhku berebut untuk keluar. Begitu waktu olahraga selesai dan masih ada waktu sepuluh menit untuk beristirahat sebelum berganti seragam, aku memanfaatkannya untuk bersantai sejenak di kantin sekolahku yang letaknya pas disebelah kelasku, tidak ketinggalan pula keempat teman-temanku.
“Kenalin kekita-kita dong cowok loe, jangan diumpetin aja kaya artis aja loe.”
Apa sih yang diomongin Rini ini, siapa juga yang udah jadian sama Armada.
“Cowok gue? Gue itu belum jadian sama dia. Kita itu Cuma dekat.”
“iya deh, yang penting kenalin dong! Kita kan penasaran.”
Aku nggak pernah berniat menyembunyikan sosok Armada dari sahabat-sahabatku, tapi memang Armada selalu menghindar bila aku ingin mempertemukan dia kepada sahabat-sahabatku dia selalu bilang “Belum saatnya gue ketemu mereka.” Entah maksudnya apa.
“Iya, nanti gue kenalin deh.”
Huh! Harus janji juga kan sama mereka, tapi yaudahlah, dari pada urusan tambah repot hehe...
Pelajaran hari ini cukup buat pusing, tapi semua seimbang karena ada pelajaran olah raga yang bisa aku gunakan untuk refreshing ya biarpun agak melelahkan. Sepulang sekolah ini aku akan dijemput Armada, kangen juga sudah tiga hari tidak bertemu dia. Bel sekolah pun berbunyi yang bertandakan jam selesainya pelajaran hari ini selesai. Langsung aku berlari meninggalkan kelas, mungkin saja teman-temanku curiga tapi aku tidak ambil pusing nanti pasti mereka tahu kalau aku sedang dekat dengan Armada, teman mereka juga sewaktu SMP. Setelah aku sampai dihalte sekolah, aku tidak melihat Armada disini sekilas aku mempunyai pikiran dia mungkin saja terlambat makanya lebih baik aku tunggu dia disini.
“Nunggu lama ya? ”
Seorang laki-laki yang menaiki motor bebek berhenti tepat didepanku, dan bertanya padaku. Sepontan saja aku bingung aku tidak mengenalinya karena dia memakai masker yang menutupi setengah mukanya.
“Iya..”
“Ayo naik! Ini pakai helmnya.”
Tidak sejengkalpun aku melangkah dan berniat menaiki motor yang dia kendarai. Mungkin dia merasa aku asing dengannya, maka sebab itu, dia pun langsung membuka masker yang menutupi setengah dari mukanya.
“Ya ampun gue kira siapa! Sempat gue mau teriak ada penculik.”
“Ada-ada aja loe, yaudah cepetan naik! Pakai helmnya.”
Sempat malu waktu tahu dia adalah Armada pasti tadi tampangku bodoh banget deh waktu belum tahu itu dia.
Aku nggak tahu hari ini dia mau mengajaku kemana, tapi dia bilang dia mau membawaku ketempat yang belum pernah aku datangi. Setelah menempuh perjalanan satu jam akhirnya sampai ketempat itu. Jujur, sampai sekarang aku masih bingung tempat apa ini.
“Yuk masuk! ”
“Sorry, loe ngajak gue kemana sih? “
“Nanti juga loe tahu. Udah yuk masuk! ”
Aku benar-benar bingung, tempat apa ini. Didepan mata ku berdiri kokoh gedung yang sudah tidak berpenghuni lagi. Kami masuk kedalam gedung itu, dan kamipun langsung menuju kelantai dua dari gedung itu. Yang aku rasakan bingung! Dan tempat yang gelap ini yang paling aku tidak suka.
“Loe liat ini ya.”
Astaga! satu, dua, tiga, bukan! Bukan Cuma tiga tapi puluhan lilin warna biru berbentuk lumba-lumba menyala dengan api yang indah banget. Baru pertama kali aku lihat ini. Yang ada dipikiranku, kenapa dia berbuat kaya gini sama aku, dan dapat uang dari mana dia sampai bisa buat kaya gini.
“Ba...ba...bagus banget! “
“Loe suka? “
“Banget! “
“Ini buat loe Bil.”
Senyum terindah yang baru pertama kali gue liat dari mukanya, damai banget. Selain senyumannya, lilin-lilin yang ada dilantai dasar gedung ini yang membentuk lumba-lumba kesukaanku ini yang tidak hentinya aku pandangi.
“Loe tahu kenapa gue bikin ini ? “
“Nggak...”
“Karena, buat gue ngebahagiain orang yang gue sayang itu wajib.”
Hah ! “orang yang gue sayang” apa iya? Benar-benar kaget aku denger kata-kata itu.
“Maksudnya ?”
Aku nggak bisa nutupin ekspresi muka aku yang udah nggak tau bentuknya seperti apa.
“Gue sayang sama loe! Gue cinta sama loe! Bukan cinta anak SMA tapi cinta yang bener tulus dari hati gue.”
“Loe serius?’
“Apa harus gue jawab setelah loe liat semua ini.”
Ini semua kaya mimpi. Benar-benar kaya mimpi. Cowok yang udah aku taksir dari SMP, sekarang ngomong secara langsung didepan mata ku pula dengan kejutan yang luar biasa indah.
“Iya. Gue juga sama.”
“Dari SMP ya? “
“Hah ?!”
“Hehe... kaget ya aku tau ini? Aku tau kok kamu gimana sama aku dari dulu kita masih SMP. “
Kalau ada pintu ajaib mungkin aku mau minta hubungkan aku kerumah ku, aku seakan tak punya nyawa untuk berdiri. Itulah yang aku alami sekarang ini malu bukan main.
“GR !”
“Serius, Rini dulu sering cerita ko. Awalnya aku kaget, apa iya seorang Billa suka sama orang kaya aku. Sampai kata Rini supaya aku percaya kalau kamu beneran suka sama aku katanya aku disuruh cuekin kamu sementara waktu, makanya waktu kamu minta tolong aku buat ngajarin kamu fisika aku langsung pergi gitu aja kan? Eh, kata Rini kamu sampe nangis gitu curhat sama dia. Dari situ aku percaya kamu suka sama aku.”
“Iiiiihhh ! kalian jahat banget sih ! udah ah, aku malu tau kalau diungkit-ungkit lagi kan udah lama.”
“Tapi kalau rasa suka kamu sama aku nggak kenal waktu kan? ”
“Sumpah ! kamu tuh PD banget. Terus kenapa lagi tu ngomongnya pake aku-kamu? “
“Sekarang kan kamu udah jadi pacar aku, jadi nggak apa-apakan kalau aku kePDan? Kan biar romantis hehe...”
“Kamu tu GR ya, siapa juga yang terima kamu.”
“Yaudah deh, nggak jadi pacaran habis kamu nggak mau sih.”
“Jangan dong.”
“haha...”
Pertama kalinya aku ngerasain tangannya nyentuh kepala aku, kalau bisa aku gambarin perasaanku nyaman banget. Rasanya nggak mau tangannya lepas.
“Yaudah pulang yuk. Nanti mama kamu marah lagi kamu pulang telat.”
“Iya, makasih ya hadiah terindah hari ini. Aku nggak pernah ngerasain diistimewain kaya gini.”
“Gombal kamu!”
“Gombal buat cowok doang tau.”
Aku dan dia pun meninggalkan tempat terindah itu. Berat kakiku buat melangkah tapi ada rasa senang yang sangat-sangat besar jadi aku abaikan keberatanku buat meninggalkan tempat ini.
“kamu pakai motor siapa?”
“Nggak penting ini motor siapa. Yang penting kamu nggak malu jalan sama aku, pacaran kan bukan untuk mempermalukan.”
“Nggak lah, aku tuh terima kamu apa adanya lagi. Aku nggak malu kamu punya kendaraan atau nggak.”
“Iya deh... yaudah naik, udah sore banget.”
Tadi saat menuju tempat itu statusku sama dia masih teman dekat tapi sekarang udah resmi jadi pacarnya. Huh! mimpi bukan sih?
“Makasih ya buat hari ini.”
“Aku juga makasih banget buat jawaban dan perasaan kamu. Udah kamu masuk nanti mama kamu marah lagi.”
“Iya, kamu hati-hati ya.”
BAB 4
Sejak saat itu, hubungan aku sama dia bener-bener baik banget. Nggak terasa tiga bulan aku dan dia bersama-sama dan selama itu pula aku diperlakuin sangat-sangat baik, bahkan bisa dibilang sangat istimewa. Aku tidak pernah mempermasalahkan pekerjaannya, aku selalu menganggap dia sama sepertiku.
Hari ini aku harus mengikuti kursus bimbel, karena materi yang harus diajarkan banyak akupun harus pulang telat. Begitu selesai kursus benar saja! Hari sudah malam sekitar pukul delapan malam. Untuk menghemat ongkos aku pikir nggak ada salahnya kalau aku naik angkutan umum saja. Sambil iseng menunggu angkutan umum terbesit dipikiranku, untuk menanyakan kabar Armada. Aku tahu kalau dia sedang tidak enak badan karena, kemarin hampir semalaman dia membantu omnya untuk mengantarkan penumpang yang sudah menyewa Busnya keBogor. Langsung saja aku ambil poselku dari dalam tasku.
Kamu lagi apa?
pesan pun terkirim. Tinggalku tunggu balasannya. Tidak beberapa lama suara dari ponselku berbunyi, menandakan ada pesan masuk.
Aku lagi istirahat.
Kepala ku sedikit pusing,
kamu lagi dimana?
Itulah pesan yang dia balas. Langsung aku balas tanpa menunggu waktu lagi.
Nungguin angkutan didepan tempat kursus.
Tadi ada materi tambahan jadi aku harus pulang telat.
Setelah pesan itu aku kirim, cukup lama dia tidak membalas pesanku. Mungkin saja dia tertidur. Aku baru sadar dari tadi tidak ada angkutan umum yang lewat, yasudah! Kalau sepuluh menit lagi tidak ada juga aku akan naik taksi saja. Tiba-tiba...
“Kenapa nggak minta jemput? “
Astaga! Armada! Tadi dia bilang dia sedang sakit. Tapi sekarang???
“Itu...anu...”
“Yaudah naik, udah malem nggak baik sendirian disini.”
Begitu sampai didepan rumahku.
“Kamu kan lagi sakit.”
“Mending aku tahan sakit, daripada malem-malem kamu nungguin angkutan sendirian kaya tadi.”
“Tapikan masih ramai banget daerahnya, jadi aku nggak ngerasa takut.”
“Kamu jangan bandel deh! Lain kali kalau emang kamu pulang telat kabarin aku ya. Biar aku jemput.”
“Iya! Yaudah sekarang kamu pulang. Udah malem kamu juga lagi nggak enak badan kan, nanti tambah parah lagi gara-gara aku.”
“Iya, aku pulang dulu ya. Kamu istirahat, besokkan sekolah.”
“Iya. Kamu hati-hati ya. Makasih banyak udah mau jemput aku padahal kamu lagi sakit.”
“Nggak masalah buat aku. Yaudah aku pulang ya.”
Dengan senyuman yang nggak pernah berubah padahal, dia lagi sakit. Mungkin aku ngerasa aku yang paling bahagia sekarang.
BAB 5
“Bil, kanalin kekita dong cowok loe!”
“Hah!”
“Loe kenapa Bil?”
Apa mau Armada bertemu teman-temanku?
“Iya Din. Nanti siang kita ketemuan sama dia kebetulan nanti dia jemput gue.”
Daripada terus ditodong pertanyaan bertubi-tubi, lebih baik nanti aku beritahu mereka saja. Setelah aku ditanya dikantin tadi rasanya jam pelajaran jadi cepat berjalan, dan sekarang waktunya pulang. Aku yakin Armada pasti sudah menunggu dihalte depan sekolah. Saat semua siswa sudah berhamburan keluar kelas, akupun langsung berjalan keluar sekolah tanpa memberitahu teman-temanku terlebih dahulu. Benar saja dia sudah menungguku dihalte, langsung saja aku hampiri dia.
“Udah lama nunggunya?”
“Belum.”
“Kamu kalau udah lama nunggunya bilangnya belum terus.”
“Serius! ”
“Temen-temenku mau ketemu kamu tuh! Boleh?”
“Aku kaya artis ya?”
“GR!”
“Bercanda, boleh kok.”
“BILLAAAA !!!”
Astaga ! geng rusuh ternyata udah ada dibelakangku, apa mereka sudah dari tadi?
“Armada bukan sih ?”
“Iya.”
Septian mulai menebak, matanya terlalu jeli kalau melihat laki-laki tampan. Saat namanya disebut oleh Septian Armada hanya mengeluarkan senyum khasnya yang menawan.
“Ini loe Da?!”
“Iya Rin.”
“Jadi? Tapi tunggu ! Serius jadi loe yang jadian sama Bil...”
Belum saja kata-katanya selesai Armada langsung mengiyakan.
“Gue nggak percaya! Kok bisa? Terus loe berdua ketemu dimana sampai bisa jadian?”
“Panjang Rin ceritanya. Kapan-kapan gue ceritain.”
“Cie... pantes loe sembunyiin dari kita-kita Bil.”
Apa sih yang dikatakan Anjani dan Dini ini, aku nggak pernah nyembunyiin Armada dari mereka. Tapi syukurlah akhirnya teman-teman ku menyetujui hubungan kami dan sangat mendukungnya.
“Udah berapa lama loe berdua jadian?”
“Tiga bulan Sep.”
“Yaampun! Berarti tiga bulan ini kalian main rahasia-rahasiaan.”
“oya, loe sekolah dimana sekarang Da?”
Pertanyaan Rini membuat Armada sontak terdiam.
“Gue kerja jadi kondektur Bus om gue Rin jadi, gue nggak sekolah. Makanya gue bisa ketemu Billa”
Rini memang sudah tahu sejak dulu bagaimana kondisi sosial Armada.
“Kalau kondekturnya kaya loe gue rajin naik Bus tiap hari. Haha...”
Dasar Septian yang berjiwa wanita selalu saja semangat setiap ada cowok ganteng dihadapannya.
“Loe itu kalau Busnya dikasih bedak juga loe embat Sep. Haha...”
“Iiih... Anjani jahat deh sama aku.”
“Aku-aku, Eke kali ah !”
Awalnya aku berpikir kalau hubungan ku dengan Armada akan ditentang oleh orangtua dan sahabat-sahabatku. Tapi aku salah, mereka sangat mendukung. Terutama orangtuaku mereka tidak sedikitpun menyinggung pekerjaan Armada, mereka berpikir Armada telah membawa pengaruh positif pada ku. Apalagi saat-saat seperti ini, saat aku menjelang ujian beberapa bulan lagi. Hari ini tepat empat bulan hubungan kami. Armada mempunyai rencana yang aku pun tak tahu apa. Jam rumahku sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Armada pun datang dengan sepeda motor yang katanya dipinjamnnya dari omnya.
“Ma ! Billa pergi dulu.”
“Jangan pulang malam-malam Bil.”
Suara mama terdengar sampai keteras rumah.
“Udah lama ya?”
“Belum, baru sampai.”
“Yuk !”
Aku pun menaiki motor yang dia kemudikan. Aku tak tahu kejutan apa yang dia akan berikan dihari jadi kami yang keempat ini. Cukup jauh memang tapi kami saling mengobrol saat diperjalanan. Saat sedang asyik mengobrol aku tak tahu apa yang terjadi pada ku, tiba-tiba ada sekelibat lampu yang bersinar sangat terang. Dan...
“Bil...”
Yang aku rasakan saat itu mataku gelap. Tidak ada apa-apa yang aku dapat lihat. Mungkin itu suara mama ku.
“Ma...”
“Iya sayang, mama disini.”
“Billa dimana ma?”
“Rumah sakit nak.”
Kenapa suara mama seperti menahan tangis, ada apa sebenarnya dengan mamaku? ada apa dengan ku?”
“Billa kenapa ma?”
“Kamu habis jatoh nak”
“Kok mata Billa diperban ma?”
“Mata kamu luka.”
Saat aku ingin meneruskan kata-kataku tak tahu apa yang aku rasakan rasanya kepalaku sakit, aku teringat akan Armada, dimana dia?
Begitu aku sadar kembali perbanku sudah dibuka. Aku melihat semuanya orangtua, dan sahabat-sahabatku.
“Aku kenapa? Armada kok nggak ada? Dia dimana?”
“Kamu udah bisa liat Bil?”
“Ma ! jawab ma!”
“Kalian kecelakaan seminggu yang lalu, mata kamu dioperasi. Dan Armada...”
“Ma! Jawab! Armada dimana ma? Dia lagi dijalan ya ma?”
“Armada udah nggak ada Bil.”
“Rin! Loe jangan asal ngomong ya! Gue itu kemarin mau ngerayain empat bulanan sama dia.”
“Gue nggak bohong. Mata yang sekarang jadi mata Loe itu mata Armada.”
“Loe semua ngerjain gue ya? Ulangtahun gue kan masih lama. SMSin Armada bilangin ke dia gue udah sembuh pasti dia seneng banget.”
“Billa! Liat mata gue, apa gue bohong? Armada udah nggak ada, disaat kritisnya dia nyerahin matanya buat loe. Dan sekarang mata yang loe punya itu mata Armada.”
Aku hanya bisa diam, aku nggak tahu apa yang aku pikirkan. Airmata yang keluar dari mataku seolah sebagai tanda aku sangat terpukul. Rasanya aku ingin mengeluarkan satu kata saja “Armada” tapi, jujur aku nggak kuat. Aku liat wajah-wajah yang ada dihadapanku papa, mama, Dini, Rini, Septian, dan Anjani wajah yang berduka.
Hari yang paling kelabu buatku, kenapa baru empat bulan aku diberi kesempatan untuk kenal dia lebih dekat. Saat ini yang aku rasakan seperti ada bongkahan batu besar yang menghambat dalam perasaanku, aku mau teriak tapi aku nggak mampu. Aku hanya bisa mengisyaratkan airmata yang jatuh sebagai tanda betapa kehilangannya aku ditinggalkan Armada.
Hari ini aku keluar dari rumah sakit, selama disana tak hentinya aku memandangi cermin. Aku melihat mata yang kini menjadi mataku, ini adalah mata indah Armada. Mungkin dia ingin agar aku ingat dengannya setiap aku melihat apapun. Aku langsung menuju makam Armada laki-laki yang aku sayang bersama papa, mama, dan sahabat-sahabatku. Aku tak tahu bekal apa yang akan ku bawa kesana mungkin bekal kekuatan agar aku tetap kuat memandang makam itu. Saat tiba disana benar saja, rasanya kaki ini lemas mulutku pun seperti tidak kuat berkata begitu sampai langsung aku mengelus nisannya. Papa, mama, dan sahabatku sangat mengerti betul perasaanku mereka membiarkan ku terus mengelus nisan itu. Mungkin mereka pun diluputi duka yang teramat dalam tapi, mereka tetap tegar untuk menjadi kekuatan buat aku. Cukup lama aku mengelus nisan itu tanpa berkata apa-apa.
“Ikhlasin Bil.”
Kata yang keluar dari orang-orang terdekatku sambil memegang pundakku tanda duka yang teramat dalam.
“Kamu liat aku disana kan Da, aku datang. Mata ini mata kita Da. Terimakasih banyak buat semua yang kamu kasih buat aku. Kamu rela datang kesekolah aku padahal hari itu hujan gede, mie yang enak, lilin lumba-lumba yang paling indah. Bahkan disaat kamu sakit kamu masih bisa buat jemput aku supaya aku nggak kenapa-kenapa, sampe diakhir kamu juga mau bahagiain aku. Terimakasih sayang. Doain aku disana ya, sampai kapan pun aku sayang kamu. Aku sayang kamu!”
“Armada pasti senang kalau loe nggak sedih lagi, pulang yuk Bil loe juga baru keluar dari rumah sakit harus istirahat. Kita semua nunggu loe. Ujian didepan mata, dan Armada pasti senang kalau loe lulus dengan nilai yang baik.”
“Iya”
Anjani benar, aku nggak boleh ngecewain dia. Karena Armada aku jadi tahu arti kebahagiaan, arti keikhlasan. Armada memang udah nggak ada tapi hati, dan matanya tetap ada buat aku.
#Selesai#